Minggu, 06 Desember 2015

Kebenaran sebagai Dasar Penelitian

1. Latar Belakang Kebenaran
Perjalanan menuju pengetahuan yang sempurna dan kebenaran yang tinggi cukup pelik dan berliku. Sejarah peradaban manusia menunjukkan adanya usaha yang tidak mengenal lelah. Pendorong ke arah itu adalah kodrat, manusia yang sifatnya selalu ingin tahu.
Penelitian, cara yang dipakai untuk memcahkan masalah dalam ilmu, merupakan penyempurnann cara-cara yang lebih dahulu dikenal manusia. Hanya dengan mengumpulka pengetahuan dan pengalaman selama perjalanan sejarah, manusia akhirnya menemukan jalan lebih banyak memnberikan kepastian akan kebenaran hasilnya.
Dapat dikatakan bahwa pada orang-orang atau golongan tertentu, kepercayaan gaib masih tetap kokoh tumbuh dengan subur menjdai darah daging yang menguasai cara hidup mereka. Cara berpikir tersebut menghambat atau mungkin berlawanan dengan cara berpikir ilmiah.
1.1.Syarat Kebenaran Imiah
1) Koherensi
Suatu dianggap benar jika pernyataan tersebut koheren atau konsisten dengan pernyataan sebelumnya yang dianggap benar.
2) Korespondensi
Suatu pernyataan dianggap benar jika materi pengetahuan yang dikandungnya berhubungan atau mempunyai koresppndensi dengan obyek yang dituju oleh pernyataan tersebut atau sesuai dengan faktanya.
3) Pragmatis
Pernyataan dianggap benar karena pernyataan tersebut mempunyai sifat pragmatis atau fungsional dalam kehidupan praktis, dapat dipraktikkan dan didayagunakan bagi kehidupan manusia di dunia.
1.2. Jalan Mencari Kebenaran
1) Penemuan Kebenaran secara Kebetulan
Penemuan kebenaran secara kebetulan tidak lain adalah takdir Allah.
2) Penemuan kebenaran melalui Trial and Error/Coba dan Ralat
Bekerja secara coba dan ralat adalah melakukan suatu pekerjaan secara aktif dengan mengulang-ulang pekerjaan tersebut berkali-kali dengan menukar-nukar cara dan materi.
3) Penemuan Kebenaran melalui Spekulasi
Penemuan dengan cara ini memerlukan pandangan yang tajam walaupun penuh spekulasi. Penemuan kebenaran yang memikul resiko untung rugi sama banyak ini tiadk dianggap sebagai kebenaran ilmiah.
4) Penemuan Kebenaran melalui Kewibawaan
Kebenaran ini berasal dari pendapat orang-orang yang dianggap berwibawa, yaitu kebenaran berdasarkan penghormatan pada pendapat orang yang dianggap berwibawa. Kewibawaan dapat dipakai sebagai dasar kebenaran jika dipikirkan kemungkinan adanya kesalahan bila diterima secara mutlak.
5) Penemuan Kebenaran melalui Berpikir kritis
Keuntungan manusia yang paling besar adalah kemampuannya berpikir. Melalui ini, manusia dapat merangkum pengalaman dan fenomena dalam suatu rumusan untuk mencapai kebenaran.
6) Penemuan Kebenaran melalui Penelitian Ilmiah
Metode penelitian adalah penyaluran hasrat ingin tahu manusia dalam taraf keilmuan. Metode ilmiah hanya akan menarik dan membenarkan suatu kesimpulan apabila telah dibentengi dengan bukti-bukti yang meyakinkan, yang dikumpulkan melalui prosedur yang sistematis,jelas, dan terkontrol.
1.3. Ramalan
Ramalan ialah inferansi yang berisi pernyataan tentang apa yang akan terjadi pada masa datang. Ramalan disusun berdasarkan hasil penalaran yang berangkat dari fakta.
Agar dapat meramalkan, ilmu lebih dahulu harus dapat menjelaskan apa, mengapa, dan bagaimana suatu masalah yang dihadapi. Penjelasan ini dapat diperoleh melalui prosedur ilmiah yang mencakup langkah utama : penemuan dan perumusan masalah;penyusunan ,atau hipotesis;pengumpulan data,verifikasi dan menarik kesimpulan. Berdasarkan penelitian inilah, suatu ramalan difikirkan dan disusun. Kesimpulan ini bersifat probabilitas atau mempunyai peluang untuk keliru,begitu juga ramalan.
Kata atau ungkapan yang digunakan dalam tulisan yang merupakan ramalan yaitu;
1. Meramalkan/diramalkan
2. Memperkirakan/diperkirakan
3. Sangat mungkin
4. Sangat boleh jadi
5. Anggapan
6. Dapat diproyeksikan
7. Mungkin
8. Kata-kata ungkapan yang mengatakan hubungan sebab-akibat
1.4. Proses berfikir
Dengan adanya keingintahuan manusia yang terus-menerus,maka ilmu akan terus berkembang dan membantu kemampuan berpesepsi serta berkemampuan logis. Dengan adanya kesamaan antara “Konsep ilmu dan proses berfikir”, maka manusia dapat memecahkan masalah yang dihadapi dalam hidupnya. Permasalahan muncul karena adanya sanksi/ keraguan akan suatu keinginan dan untuk memperoleh suatu ketentuan yang kemudian muncul menjadi suatu masalah yang khas.
Proses berfikir manusia digambarkan dalam urutan sebagai berikut;
1. Timbul rasa sulit, baik dalam bentuk adaptasi terhadap alat, mengenal sifat, atau dalam menerangkan hal-hal yang muncul secara tiba-tiba.
2. Rasa sulit tersebut didefinisikan/dirumuskan dalam bentuk permasalahan.
3. Mencari kemungkinan pemecahan yang berupa reka-reka,hipotesis,inferensi,atau teori.
4. Ide-ide pemecahan masalah diuraikan secara rasional melalui pembentukan implikasi dengan jalan mengumpulkan bukti-bukti(data)
5. Menguatkan pembuktian tentang ide diatasa dan menyimpulkan melalui keterangan-keterangan atau percobaan-percobaan(pengolahan data)
Berfikir secara nalar mempunyai dua kriteria yaitu: berfikir logis dan berfikir analitis.
a. Berfikis Logis
Artinya suatu kebenaran dapat diterima oleh suatu pihak, tetapi dapat ditolak oleh pihak lain. Kecenderungan yang dapat menjurus kepada kekacauan bernalar ini disebabkan oleh perbedaan persepsi dari masig-masing pihak.
b. Berfiri Analitis
Pada hakikatnya berpikir ilmiah merupakan gabungan antara berpikir deduktif dan induktif, masing-masing berkaitan secara rasional (rasio sebagai sumber kebenaran) dan empiris (fakta sebagai sumber kebenaran).
1.5.Ilmu dan Pengetahuan
Ilmu adalah pengetahuan tentang fakta, baik itu yang bersifat natural maupun sosial yang berlaku umum dan sistematis atau pengetahuan yang sudah diatur menurut urutan dan arti serta menyeluruh dan sistematis.
Ilmu adalah pengetahuan yang telah disusun secara sistematis dan berlaku umum, sedangkan pengetahuan adalah pengalaman yang bersifat pribadi atau kelompok; belum disusun secara sistematis karena belum dicoba dan diuji.
1.6. Penelitian
Penelitian adalah terjemah dari research, artinya mencari kembali. Secara umum penelitian ialah kegiatan/alat untuk memperoleh jawaban/kebenaran mengenai suatu fenomena yang diamati.
Langkah penelitian diturunkan dari proses berpikir berikut:
· Menemukan dan mengidentifikasikan/merumuskan masalah.
· Berdasarkan maasalah dibangun kerangka teori hingga sampai pada hipotesis (kesimpulan sementara yang di tarik dari teori dan fenomena).
· Pengumpulan data.
· Pengolahan data;menjaring,menyusun,menguji data;menarik,membahas hasil uji dan akhirnya menarik kesimpulan.
· Publikasi.

Penelitian adalah suatu proses,ilmu adalah hasilnya.Penelitian dan ilmu sebagai proses untuk mendapatkan kebenaran.

Bagaimanakah Sejarah Perkembangan Bahasa Indonesia?

Bahasa Indonesia
Bahasa Indonesia adalah bahasa resmi dan bahasa persatuan Republik Indonesia. Penggunaan Bahasa Indonesia diresmikan setelah proklamasi kemerdekaan bersamaan dengan mulai berlakunya konstitusi.
Dari segi linguistik, bahasa Indonesia adalah varian dari bahasa Melayu. Bahasa Melayu merupakan sebuah bahasa Austronesia dari cabang Sunda-Sulawesi yang digunakan sebagai lingua franca atau bahasa perhubungan di Nusantara sejak abad awal penanggalan modern.
Bahasa melayu menyebar ke pelosok Nusantara bersamaan dengan menyebarnya agama Islam di wilayah Nusantara, serta makin berkembang dan bertambah kokoh keberadaannya karena bahasa Melayu mudah di terima oleh masyarakat Nusantara sebagai bahasa perhubungan antar pulau, antar suku, antar pedagang, antar bangsa dan antar kerajaan. Perkembangan bahasa Melayu di wilayah Nusantara mempengaruhi dan mendorong tumbuhnya rasa persaudaraan dan rasa persatuan bangsa Indonesia, oleh karena itu para pemuda indonesia yang tergabung dalam perkumpulan pergerakan secara sadar mengangkat bahasa Melayu menjadi bahasa indonesia menjadi bahasa persatuan untuk seluruh bangsa indonesia.
Dalam perkembangannya Bahasa Indonesia mengalami perubahan akibat penggunaanya sebagai bahasa kerja di lingkungan administrasi kolonial dan berbagai proses pembakuan sejak awal abad ke-20. Penamaan "Bahasa Indonesia" diawali sejak dicanangkannya Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928 yang bertujuan untuk menghindari kesan "imperialisme bahasa" apabila nama "bahasa Melayu" tetap digunakan. Proses ini menyebabkan berbedanya Bahasa Indonesia saat ini dari varian bahasa Melayu yang digunakan di Riau maupun Semenanjung Malaya atau bagian Sumatera. Hingga saat ini, Bahasa Indonesia merupakan bahasa yang hidup, yang terus menghasilkan kata-kata baru, baik melalui penciptaan maupun penyerapan dari bahasa daerah, bahasa asing maupun kata-kata yang tercipta dari lingkungan sekitar.
Meskipun dipahami dan dituturkan oleh lebih dari 90% warga Indonesia, Bahasa Indonesia bukanlah bahasa ibu bagi kebanyakan warga Indonesia. Sebagian besar menggunakan salah satu dari 748 bahasa yang ada di Indonesia sebagai bahasa ibu. Penutur Bahasa Indonesia kerap kali menggunakan versi sehari-hari (kolokial) dan/atau mencampuradukkan dengan dialek Melayu lainnya atau bahasa ibunya. Meskipun demikian, Bahasa Indonesia digunakan sangat luas di perguruan-perguruan, media massa, sastra, perangkat lunak, surat-menyurat resmi, dan berbagai forum publik lainnya.

Sejarah Awal Perkembangan Bahasa Indonesia
Awalnya, pemerintah kolonial Hindia-Belanda menyadari bahwa bahasa Melayu dapat dipakai untuk membantu administrasi bagi kalangan pegawai pribumi karena penguasaan bahasa Belanda para pegawai pribumi dinilai lemah. Dengan menyandarkan diri pada bahasa Melayu Tinggi, sejumlah sarjana Belanda mulai terlibat dalam standardisasi bahasa. Promosi bahasa Melayu pun dilakukan di sekolah-sekolah dan didukung dengan penerbitan karya sastra dalam bahasa Melayu. Akibat pilihan ini terbentuklah "embrio" bahasa Indonesia yang secara perlahan mulai terpisah dari bentuk semula bahasa Melayu Riau-Johor.
Ada empat faktor yang menyebabkan Bahasa melayu diangkat menjadi bahasa Indonesia, yaitu:
  1. Bahasa melayu merupakan Lingua Franca di Indonesia, yaitu bahasa perhubungan dan bahasa perdagangan.
  2. Sistem bahasa melayu sederhana, mudah di pelajari karena dalam bahasa melayu tidak dikenal tingkatan bahasa (bahasa kasar dan bahasa halus).
  3. Suku Jawa, Suku Sunda, dan Suku-suku lainnya dengan sukarela menerima bahasa melayu menjadi awal bahasa indonesia sebagai bahasa nasional.
  4. Bahasa melayu mempunyai kesanggupan untuk di pakai sebagai bahasa kebudayaan dalam arti yang luas.
Pada awal abad ke-20 perpecahan dalam bentuk baku tulisan bahasa Melayu mulai terlihat. Pada tahun 1901, Indonesia yang saat itu disebut Hindia-Belanda, mengadopsi ejaan Van Ophuijsen dan pada tahun 1904 Persekutuan Tanah Melayu-yang saat ini menjadi wilayah Malaysia-di bawah pimpian Inggris mengadopsi ejaan Wilkinson. Ejaan Van Ophuijsen diawali dari penyusunan Kitab Logat Melayu Van Ophuijsen pada tahun 1896 yang dibantu oleh Nawawi Soetan Ma’moer dan Moehammad Taib Soetan Ibrahim.
Intervensi pemerintah semakin kuat dengan dibentuknya Commissie voor de Volkslectuur ("Komisi Bacaan Rakyat" - KBR) pada tahun 1908 yang saat ini bernama Balai Pustaka. Pada tahun 1910 komisi ini, di bawah pimpinan D.A Rinkes, melancarkan program Taman Poestaka dengan membentuk perpustakaan kecil di berbagai sekolah pribumi dan beberapa instansi milik pemerintah. Perkembangan program ini sangat pesat, dalam dua tahun telah terbentuk sekitar 700 perpustakaan. Bahasa Indonesia secara resmi diakui sebagai "bahasa persatuan bangsa" pada saat Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober. Penggunaan bahasa Melayu sebagai bahasa nasional merupakan usulan Muhammad Yamin, seorang politikus, sastrawan, dan ahli sejarah.
Dalam pidatonya
di Kongres Nasional kedua di Jakarta, Yamin mengatakan,
"Jika mengacu pada masa depan bahasa-bahasa yang ada di Indonesia dan kesusastraannya, hanya ada dua bahasa yang bisa diharapkan menjadi bahasa persatuan yaitu bahasa Jawa dan Melayu. Tapi dari dua bahasa itu, bahasa Melayulah yang lambat laun akan menjadi bahasa pergaulan atau bahasa persatuan." 
Selanjutnya perkembangan bahasa dan kesusastraan Indonesia banyak dipengaruhi oleh sastrawan Indonesia yang banyak mengisi dan menambah perbendaharaan kata,sintaksis, maupun morfologi bahasa Indonesia. 
Bahasa Indonesia dituturkan di seluruh Indonesia, walaupun lebih banyak digunakan di area perkotaan dengan dialek dan logat daerahnya masing-masing. Untuk berkomunikasi dengan sesama orang sedaerah kadang bahasa ibulah yang digunakan sebagai pengganti bahasa Indonesia.
Dialek dan ragam bahasa
Pada keadaannya bahasa Indonesia menumbuhkan banyak varian yaitu varian menurut pemakai yang disebut sebagai dialek dan varian menurut pemakaian yang disebut sebagai ragam bahasa.
Dialek dibedakan menjadi beberapa jenis, yaitu :
  1. Dialek regional, yaitu macam-macam bahasa yang digunakan di daerah tertentu sehingga membedakan bahasa yang digunakan di suatu daerah dengan bahasa yang digunakan di daerah yang lain meski mereka berasal dari satu bahasa yang sama. Oleh karena itu, dikenallah bahasa Melayu dialek Ambon, dialek Betawi, dialek Medan, dan lain-lain.
  2. Dialek sosial, yaitu dialek yang digunakan oleh kelompok masyarakat tertentu atau yang menandai tingkat masyarakat tertentu. Contohnya dialek wanita dan dialek remaja.
  3. Dialek temporal, yaitu dialek yang digunakan pada kurun waktu tertentu. Contohnya dialek Melayu zaman Sriwijaya dan dialek Melayu zaman Abdullah.
  4. Idiolek, yaitu keseluruhan ciri bahasa seseorang. Sekalipun kita semua berbahasa Indonesia, kita masing-masing memiliki ciri-ciri khas pribadi dalam pelafalan, tata bahasa, atau pilihan dan kekayaan kata.
Ragam bahasa dalam bahasa Indonesia berjumlah sangat banyak dan tidak terhitung. Maka itu, ia dibagi atas dasar pokok pembicaraan, perantara pembicaraan, dan hubungan antarpembicara.
Ragam bahasa menurut pokok pembicaraan meliputi:
  1. ragam undang-undang
  2. ragam jurnalitik
  3. ragam ilmiah
  4. ragam sastra

Ragam bahasa menurut hubungan antarpembicara dibagi atas:
  1. ragam lisan, terdiri dari:
    1. ragam percakapan
    2. ragam pidato
    3. ragam kuliah
    4. ragam panggung
  2. ragam tulis, terdiri dari:
    1. ragam teknis
    2. ragam undang-undang
    3. ragam catatan
    4. ragam surat-menyurat

Dalam kenyataannya, bahasa baku tidak dapat digunakan untuk segala keperluan, tetapi hanya untuk:
  1. komunikasi resmi
  2. wacana teknis
  3. pembicaraan di depan khalayak ramai
  4. pembicaraan dengan orang yang dihormati
Selain keempat penggunaan tersebut, dipakailah ragam bukan baku.